Anand Krishna Kirim Patung Buddha untuk Dalai Lama

Minggu, 25 Januari 2009
KabarIndonesia, Dharmasala - Aktivis spiritual lintas agama Nusantara dan pendiri Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) Anand Krishna mempersembahkan sebuah patung Buddha (setinggi 2,5 m) kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 Tenzin Gyatso di Sarnath India.
Penulis lebih dari 120 buku tersebut berangkat bersama dengan 6 pengurus Yayasan Anand Ashram. Paska diinagurasi secara langsung oleh Dalai Lama ke-14, patung Buddha tersebut akan diletakkan di Central Institue of Higher Tibetan Studies (Deemed University), Uttar Pradesh.

Patung Buddha itu terbuat dari batu yang sama dengan bahan untuk membangun Candi Borobudur pada abad ke 9 Masehi di Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia. Anand Krishna mengatakan bahwa tujuan mempersembahkan patung Buddha ialah untuk memperkuat ikatan spiritual dan budaya antara masyarakat Indonesia dan Tibet serta mendukung perjuangan tanpa kekerasan (non-violence) Yang Mulia Dalai Lama ke-14 guna melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet.

“Saya mewakili rakyat Indonesia memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 atas upayanya yang tak kenal lelah guna menemukan solusi damai berlandaskan sikap toleransi dan saling menghormati demi melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet,” kata pria keturunan India yang lahir di Solo tersebut.

Pada tahun 1012 Masehi, Atisha, seorang biarawan Buddhis dari India berkelana ke kepulauan Nusantara. Lantas ia pergi ke Tibet untuk mengajarkan ajaran kuno meditasi Tong-Len yang beliau pelajari dari seorang guru bernama Dharmakirti-Svarnadvipi, sebuah nama yang sangat lekat di hati Yang Mulia Dalai Lama dan masyarakat Tibet pada umumnya.

“Dengan mempersembahkan patung dari Indonesia ini kepada Yang Mulia Dalai Lama dan kemudian diletakkan di tanah India, saya berharap agar rakyat Tibet, India serta Indonesia bersatu dalam cinta, damai, dan harmoni,” lanjut tokoh perdamaian dunia tersebut.

Maya Safira Muchtar, Ketua Yayasan Anand Ashram, mengatakan bahwa saat ini di Indonesia tak banyak orang yang tahu hubungan sejarah antara Kerajaan Sriwijaya dengan Tibet. “Sungguh sangat disayangkan bila saat ini masyakat di Indonesia belum banyak yang tahu ada tokoh sekaliber Atisha maupun Dharmakirti-Svarnadvipi yang telah ikut mewarnai keagungan tradisi spiritual dan kebudayaan Tibet hingga saat ini. Persembahan dengan penuh kerendahan hati ini adalah suatu upaya untuk memperbaiki keadaan tersebut,” tambah Maya Safira Muchtar.

Karena itulah, masih menurut Maya Safira Muchtar, kunjungan Bapak Anand Krishna kepada Dalai Lama ke-14 ini merupakan satu peristiwa bersejarah guna menjalin kembali tali kebudayaan dan spiritualitas antara bangsa Indonesia dengan Tibet. “Kita, kedua bangsa, ini merupakan bagian dari peradaban Lembah Sungai Shindu yang satu adanya. Kita dapat bersama memberikan tanggapan yang bijak dan penuh kasih bagi masalah kemanusiaan di dunia dewasa ini. Yakni dalam rangka mewujudkan mimpi bersama kita, ‘One Earth, One Sky, and One Humankind’-Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia,” tandas Maya Safira Muchtar.  (*)

Oleh : Tarsisius Nugroho Angkasa S.pd
Sumber: Kabarindonesia.com
Share This Post

2 Tanggapan

  1. Hock Pheng

    Salam Damai,

    Permasalahan di muka bumi ini timbul disebabkan oleh umat manusia yang masih diliputi oleh keserakahan, keegoisan dan kebodohan. Satu-satunya jalan supaya bisa terciptanya satu bumi, satu langit dan satu umat manusia yaitu dimana umat manusia telah menlenyapkan keserakahan, keegoisan dan kebodohan dalam pikiran, ucapan dan tindakan, maka pada saat itulah bumi ini damai dan menyatu dengan alam semesta yang tiada awal dan akhir. terima kasih atas perhatiannya.

  2. Hock Pheng

    Salam Bahagia,

    Satu-satunya jalan untuk menlenyapkan keserakahan, keegoisan dan kebodohan adalah dengan sila, samadhi dan prajna (welas asih).

Tinggalkan Komentar