<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Tibet Indonesia Friendship Association</title>
	<atom:link href="http://tibetindonesia.org/ind/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tibetindonesia.org/ind</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 06:51:25 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>[Video] Anand Krishna presents Buddha Statue to His Holiness the Dalai Lama</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/video-anand-krishna-presents-buddha-statue-to-his-holiness-the-dalai-lama/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/video-anand-krishna-presents-buddha-statue-to-his-holiness-the-dalai-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 06:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/O4t-MSV2_Jo&#038;hl=en&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/O4t-MSV2_Jo&#038;hl=en&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/video-anand-krishna-presents-buddha-statue-to-his-holiness-the-dalai-lama/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anand Krishna Kirim Patung Buddha untuk Dalai Lama</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-kirim-patung-buddha-untuk-dalai-lama/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-kirim-patung-buddha-untuk-dalai-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 02:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[KabarIndonesia, Dharmasala - Aktivis spiritual lintas agama Nusantara dan pendiri Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) Anand Krishna mempersembahkan sebuah patung Buddha (setinggi 2,5 m) kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 Tenzin Gyatso di Sarnath India. 
Penulis lebih dari 120 buku tersebut berangkat bersama dengan 6 pengurus Yayasan Anand Ashram. Paska diinagurasi secara langsung oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-size: 11px;"><strong><em>KabarIndonesia,</em> Dharmasala -</strong> Aktivis spiritual lintas agama Nusantara dan pendiri Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB<em>) </em>Anand Krishna mempersembahkan sebuah patung Buddha (setinggi 2,5 m) kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 Tenzin Gyatso di Sarnath India. </span></div>
<div><span style="font-size: 11px;"><span id="more-44"></span>Penulis lebih dari 120 buku tersebut berangkat bersama dengan 6 pengurus Yayasan Anand Ashram. Paska diinagurasi secara langsung oleh Dalai Lama ke-14, patung Buddha tersebut akan diletakkan di <em>Central Institue of Higher Tibetan Studies (Deemed University),</em> Uttar Pradesh.</p>
<p>Patung Buddha itu terbuat dari batu yang sama dengan bahan untuk membangun Candi Borobudur pada abad ke 9 Masehi di Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia. Anand Krishna mengatakan bahwa tujuan mempersembahkan patung Buddha ialah untuk memperkuat ikatan spiritual dan budaya antara masyarakat Indonesia dan Tibet serta mendukung perjuangan tanpa kekerasan <em>(non-violence)</em> Yang Mulia Dalai Lama ke-14 guna melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet.</p>
<p>&#8220;Saya mewakili rakyat Indonesia memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 atas upayanya yang tak kenal lelah guna menemukan solusi damai berlandaskan sikap toleransi dan saling menghormati demi melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet,&#8221; kata pria keturunan India yang lahir di Solo tersebut. </span></div>
<div></div>
<div><span style="font-size: 11px;">Pada tahun 1012 Masehi, Atisha, seorang biarawan Buddhis dari India berkelana ke kepulauan Nusantara. Lantas ia pergi ke Tibet untuk mengajarkan ajaran kuno meditasi Tong-Len yang beliau pelajari dari seorang guru bernama Dharmakirti-Svarnadvipi, sebuah nama yang sangat lekat di hati Yang Mulia Dalai Lama dan masyarakat Tibet pada umumnya.</p>
<p>&#8220;Dengan mempersembahkan patung dari Indonesia ini kepada Yang Mulia Dalai Lama dan kemudian diletakkan di tanah India, saya berharap agar rakyat Tibet, India serta Indonesia bersatu dalam cinta, damai, dan harmoni,&#8221; lanjut tokoh perdamaian dunia tersebut.</p>
<p>Maya Safira Muchtar, Ketua Yayasan Anand Ashram, mengatakan bahwa saat ini di Indonesia tak banyak orang yang tahu hubungan sejarah antara Kerajaan Sriwijaya dengan Tibet. &#8220;Sungguh sangat disayangkan bila saat ini masyakat di Indonesia belum banyak yang tahu ada tokoh sekaliber Atisha maupun Dharmakirti-Svarnadvipi yang telah ikut mewarnai keagungan tradisi spiritual dan kebudayaan Tibet hingga saat ini. Persembahan dengan penuh kerendahan hati ini adalah suatu upaya untuk memperbaiki keadaan tersebut,&#8221; tambah Maya Safira Muchtar.</p>
<p>Karena itulah, masih menurut Maya Safira Muchtar, kunjungan Bapak Anand Krishna kepada Dalai Lama ke-14 ini merupakan satu peristiwa bersejarah guna menjalin kembali tali kebudayaan dan spiritualitas antara bangsa Indonesia dengan Tibet. &#8220;Kita, kedua bangsa, ini merupakan bagian dari peradaban Lembah Sungai Shindu yang satu adanya. Kita dapat bersama memberikan tanggapan yang bijak dan penuh kasih bagi masalah kemanusiaan di dunia dewasa ini. Yakni dalam rangka mewujudkan mimpi bersama kita, <em>‘One Earth, One Sky, and One Humankind&#8217;</em>-Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia,&#8221; tandas Maya Safira Muchtar.  (*)<br />
<em><strong><a href="http://www.kabarindonesia.com//"></a></strong></em></span></div>
<div>
<span style="font-size: 12px; color: black;"><strong>Oleh : Tarsisius Nugroho Angkasa S.pd</strong></span><br />
Sumber:<a href="http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=1&amp;dn=20090107120924" target="_blank"> Kabarindonesia.com</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-kirim-patung-buddha-untuk-dalai-lama/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Damai untuk Tibet</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/aksi-damai-untuk-tibet/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/aksi-damai-untuk-tibet/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 03:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[	


	


	


	


	


	


	


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221852262/" title="01" rel="flickr-mgr[72157612875646425]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3134/3221852262_e09daca7f4_t.jpg" alt="01" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221852972/" title="02" rel="flickr-mgr[72157612875646425]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3516/3221852972_687644e10e_t.jpg" alt="02" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221002251/" title="03" rel="flickr-mgr[72157612875646425]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3486/3221002251_01d7fbbf93_t.jpg" alt="03" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221853714/" title="04" rel="flickr-mgr[72157612875646425]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3365/3221853714_5277949dc4_t.jpg" alt="04" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221854050/" title="05" rel="flickr-mgr[72157612875646425]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3267/3221854050_710b86870a_t.jpg" alt="05" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221003339/" title="06" rel="flickr-mgr[72157612875646425]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3353/3221003339_fb2087a6be_t.jpg" alt="06" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221003643/" title="07" rel="flickr-mgr[72157612875646425]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3441/3221003643_9507113ac1_t.jpg" alt="07" class="flickr-medium" />
</a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/aksi-damai-untuk-tibet/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>27 Maret 2008: Seruan Bagi Penyelesaian Masalah di Tibet secara Damai</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/27-maret-2008-seruan-bagi-penyelesaian-masalah-di-tibet-secara-damai/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/27-maret-2008-seruan-bagi-penyelesaian-masalah-di-tibet-secara-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 02:44:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Tibet sedang menangis&#8230;Kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah RRC terhadap Tibet yang dikenal sebagai negeri Atap Dunia sangat memilukan.Untuk itulah aksi damai Seruan Bagi Penyelesaian masalah di Tibet secara Damai dilakukan. Hubungan antara Indonesia-Tibet amatlah erat bila kita belajar dari sejarah. Seperti yang diuraikan oleh Bapak Anand Krishna dalam tulisan Indonesia, Tibet and the secret of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tibet sedang menangis&#8230;Kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah RRC terhadap Tibet yang dikenal sebagai negeri Atap Dunia sangat memilukan.Untuk itulah aksi damai Seruan Bagi Penyelesaian masalah di Tibet secara Damai dilakukan. Hubungan antara Indonesia-Tibet amatlah erat bila kita belajar dari sejarah. Seperti yang diuraikan oleh Bapak Anand Krishna dalam tulisan Indonesia, Tibet and the secret of ‘terima kasih’ yang dimuat The Jakarta Post, 24 Maret 2008:</p>
<p>For almost a millenium the Tibetans have preserved the missing pages of our history. They have preserved them with a sense of gratitude. What have we done for them? How do we return our gratitude to them?</p>
<p><span id="more-39"></span>Aksi damai yang diadakan pada hari Kamis, tanggal 27 Maret 2008 ini diikuti oleh sekitar 50 teman-teman dari Yayasan Anand Ashram dan dilakukan di dua tempat. Tempat pertama adalah di depan Kedutaan Besar Republik Rakyat China (RRC) di kawasan Mega Kuningan. Pada awalnya sempat terbersit rasa khawatir, karena aksi yang dimulai pada pukul 8 pagi ini dibayangi oleh mendung, dan benar saja karena beberapa saat setelah aksi dimulai, rintik hujan mulai turun.</p>
<p>Tapi keajaiban pun terjadi. Ketika Bapak Anand Krishna hadir di lokasi aksi damai, rintik hujan berhenti. Hal ini menambah semangat teman-teman untuk menyanyikan lagu-lagu yang menyuarakan perdamaian agar bergema dan didengar oleh pemerintah RRC. Spanduk besar dibentangkan dengan pesan We Remind You of Our Founding Father’s Slogan &amp; Commitment “FREEDOM TO BE FREE” dan kibaran bendera merah putih semakin menghangatkan suasana. Sebagian teman juga menyebarkan tulisan Guruji yang dimuat di koran The Jakarta Post, yang berjudul Indonesia, Tibet and the secret of ‘terima kasih’ pada pengguna jalan diseputar Kedubes RRC. Bahkan Ibu Liny Tjeris terjun langsung dalam aksi menyebarkan tulisan ini dengan penuh semangat. Beberapa wartawan dari berbagai media baik lokal maupun asing nampak meliput kegiatan ini.</p>
<p>Pada pukul 8.40 aksi dilanjutkan dengan melakukan meditasi Tong-Len, yang berarti meditasi terima dan kasih. Inilah tehnik meditasi yang diajarkan oleh Dharmakirti dari Svarna Dvipa (Sumatera) lebih dari 800 tahun yang lalu kepada Atisha, seorang murid dari India, yang kemudian membawanya ke Tibet. Aksi di Kedubes RRC ini kemudian berakhir pada pukul 8.45 WIB. Namun aksi belum selesai. Tempat kedua yang menjadi lokasi aksi adalah Departemen Luar Negeri di Jl. Taman Pejambon. Segera teman-teman pun meluncur kesana.</p>
<p>Aksi di Departemen Luar Negeri nampak semakin seru. Banyak wartawan yang meliput dan mewawancarai Bapak Anand Krishna dan Ibu Maya Safira Muchtar selaku ketua Yayasan Anand Ashram. Tak lama setelah aksi dimulai, pihak Deplu berkenan menerima Bapak Anand Krishna, ibu Liny Tjeris, ibu Maya Safira Muchtar dan beberapa teman lainnya dari Yayasan Anand Ashram untuk berdialog. Sementara teman-teman lain di depan kantor Deplu terus mengumandangkan pesan-pesan perdamaian lewat lagu-lagu yang ceria dan menggugah.</p>
<p>Dalam pertemuan tersebut ibu Maya sempat menyampaikan desakan agar pemerintah RI mengevaluasi hubungan RI dengan RRC dan agar pemerintah RRC menghentikan kekerasan di Tibet. Ibu Maya juga menyampaikan bahwa banyak kebijakan RRC yang merugikan Indonesia, seperti kebijakan dumping, sehingga diharapkan pemerintah RI tidak diam saja. Bapak Anand Krishna kemudian menyampaikan pula akan komitmen founding fathers kita bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya dinikmati oleh Indonesia saja tapi Indonesia juga membantu bangsa-bangsa lain dalam menikmati kemerdekaan itu. Cultural genocide sedang terjadi di Tibet dan mereka membutuhkan bantuan dari kita semua. Bapak Anand Krishna kemudian mengingatkan bahwa di bidang ekonomi, barang-barang produksi RRC banyak merusak infrastruktur industri kita. Pemerintah RRC juga melakukan kamuflase dengan menggunakan sentimen agama untuk menarik simpati penduduk Indonesia yang sebagian besar beragama Islam. Beliau juga menyampaikan pengalaman ketika berkunjung ke China dimana petani di China sendiri juga turut menderita akibat tekanan yang dilakukan oleh pemerintah RRC sehingga sangat disayangkan bila petani dan pedagang kita justru berkiblat ke China. Hal inilah yang membuat hubungan RI-RRC perlu di-review kembali.</p>
<p>Setelah mendengarkan pesan-pesan tersebut, Bapak Abdul Fatah Zainal Minister Counsellor dari Departemen Luar Negeri yang menerima rombongan Yayasan Anand Ashram mengaku merasa tertarik dengan rombongan ini karena datang dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda etnis, agama dan lain-lain. Apalagi setelah mendengarkan uraian mengenai berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh keluarga besar Yayasan Anand Ashram beserta sayap-sayap kegiatannya di berbagai bidang seperti ekonomi dan sosial, beliau semakin kagum. Bapak Abdul Fatah kemudian menyampaikan terima kasih atas masukan dari Yayasan Anand Ashram dan berjanji akan menyampaikan hal tersebut pada pimpinan.</p>
<p>Setelah pertemuan dengan Departemen Luar Negeri usai, Bapak Anand Krishna beserta rombongan keluar dari ruangan namun diluar sudah menunggu banyak wartawan dari berbagai media yang ingin mengadakan wawancara. Wawancara pun kemudian dilakukan di halaman kantor Deplu. Kembali di depan kantor Deplu, teman-teman masih bersemangat menyanyikan lagu-lagu yang menyuarakan perdamaian. Tak terasa hari telah beranjak semakin siang dan aksi pun diakhiri, namun gema perdamaian tak pernah surut disuarakan. Damai&#8230;damai&#8230;damai&#8230;</p>
<p>Laporan Pandangan Mata oleh Didit</p>
<p><strong>Related Links:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.antaraphoto.com/dom/prevw/?id=1206610024" target="_blank">Antara Photo 1</a></li>
<li><a href="http://www.antaraphoto.com/dom/prevw/?id=1206610033" target="_blank">Antara Photo 2</a></li>
<li><a href="http://www.lantas.metro.polri.go.id/news/index.php?id=2&amp;nid=13112" target="_blank">Lantas Metro Polri: Tujuh Lokasi Unjuk Rasa </a></li>
<li><a href="http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.27.09102017&amp;channel=1&amp;mn=9&amp;idx=25" target="_blank">Kompas Online: Solidaritas Tibet Demo Kedubes RRC</a></li>
<li><a href="http://www.erabaru.or.id/k_21_art_23.html" target="_blank">Wawancara dengan Anand Khrisna:</a></li>
<li><a href="http://www.erabaru.or.id/k_21_art_23.html" target="_blank"> Seruan Bagi Penyelesaian Masalah di Tibet Secara Damai</a></li>
<li><a href="http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/1id51215.html" target="_blank">Deplu perlu aktif ikut selesaikan masalah Tibet</a></li>
<li><a href="http://tv.kompas.com/berita/metropolitan/aksi_kebebasan_untuk_tibet.html" target="_blank">Kompas TV: Aksi Kebebasan Untuk Tibet</a></li>
<li><a href="http://www.tvri.co.id/detail_berita.php?id=1953&amp;kode=3" target="_blank">TVRI: Demo Dukung Tibet</a></li>
<li><a href="http://tiongkokbaru.wordpress.com/2008/04/01/boikot-olimpiade-bergema-dalam-aksi-tibet/" target="_blank">Boikot Olimpiade Bergema dalam Aksi Tibet</a></li>
<li><a href="http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita,Indonesia-Diminta-Boikot-Olimpiade-di-China-1543.html" target="_blank">Voice of Human Right: Indonesia Diminta Boikot Olimpiade di China</a></li>
<li><a href="http://tiongkokbaru.wordpress.com/2008/04/01/boikot-olimpiade-bergema-dalam-aksi-tibet/" target="_blank">Tiongkok Baru: Boikot Olimpiade bergema dalam aksi Tibet</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/27-maret-2008-seruan-bagi-penyelesaian-masalah-di-tibet-secara-damai/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Profil Yayasan Anand Ashram</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/profil-yayasan-anand-ashram/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/profil-yayasan-anand-ashram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 14:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/-CjH2ces9qg&#038;hl=en&#038;fs=1"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/-CjH2ces9qg&#038;hl=en&#038;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/profil-yayasan-anand-ashram/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dalai Lama ke-14 meresmikan patung Buddha yang dipersembahkan oleh Anand Krishna di Sarnath India</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/dalai-lama-ke-14-meresmikan-patung-buddha-yang-dipersembahkan-oleh-anand-krishna-di-sarnath-india-2/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/dalai-lama-ke-14-meresmikan-patung-buddha-yang-dipersembahkan-oleh-anand-krishna-di-sarnath-india-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 05:22:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[	


	


	


	


	


	


	


	


	


	


	


	


	


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3214804296/" title="Smile" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3423/3214804296_490194035d_t.jpg" alt="Smile" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3214804294/" title="Receives Khata" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3422/3214804294_acc7d52ae2_t.jpg" alt="Receives Khata" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3214804292/" title="Receives Buddha statue" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3103/3214804292_510cbb6ef7_t.jpg" alt="Receives Buddha statue" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3214804290/" title="Liny Tjering, AK, DL" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3260/3214804290_6ccb8e4802_t.jpg" alt="Liny Tjering, AK, DL" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3214804288/" title="K TV Interviewing" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3364/3214804288_5d6eabc3c2_t.jpg" alt="K TV Interviewing" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3214804284/" title="Gives Khata" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3424/3214804284_8a84a3351e_t.jpg" alt="Gives Khata" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3213949535/" title="Enter the stage" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3514/3213949535_65221c93b7_t.jpg" alt="Enter the stage" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3213949533/" title="Dalai Lama and Anand Krishna holding hand, Sarnath Varanasi" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3409/3213949533_5ed54d2bfd_t.jpg" alt="Dalai Lama and Anand Krishna holding hand, Sarnath Varanasi" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3213949527/" title="Gives Khata" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3392/3213949527_2c02a8835d_t.jpg" alt="Gives Khata" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3213949525/" title="Enter the stage" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3324/3213949525_0f4f3b2777_t.jpg" alt="Enter the stage" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3213949521/" title="Dalai Lama and Anand Krishna holding hand, Sarnath Varanasi" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3094/3213949521_00af9f07eb_t.jpg" alt="Dalai Lama and Anand Krishna holding hand, Sarnath Varanasi" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3213949517/" title="Anand Ashram Members 2" rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3492/3213949517_9f84e9ac52_t.jpg" alt="Anand Ashram Members 2" class="flickr-medium" />
</a>
<a href="http://www.flickr.com/photos/29499152@N03/3221051855/" title="Atisha, Indian Buddhist monk/scholar traveled to the Indonesian archipelago." rel="flickr-mgr[72157612765497885]" class="flickr-image" >
	<img src="http://farm4.static.flickr.com/3464/3221051855_8f49696be5_t.jpg" alt="Atisha, Indian Buddhist monk/scholar traveled to the Indonesian archipelago." class="flickr-medium" />
</a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/dalai-lama-ke-14-meresmikan-patung-buddha-yang-dipersembahkan-oleh-anand-krishna-di-sarnath-india-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Tibet dan rahasia dari ‘terima kasih’</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/indonesia-tibet-dan-rahasia-dari-%e2%80%98terima-kasih%e2%80%99/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/indonesia-tibet-dan-rahasia-dari-%e2%80%98terima-kasih%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 04:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan saya dengan Yang Mulia Dalai Lama terjadi pada tahun 1996. Bersama seorang anggota DPR dan dua orang teman lainnya, kami cukup beruntung untuk mendapatkan audiensi dengan Beliau. Ketika saya berkata bahwa kita semua berasal dari Indonesia, Beliau segera bereaksi, “ Oh yes, yes, yes…Indonesia…Tibet mempunyai hubungan yang erat, dan ikatan yang kuat dengan Indonesia.”

“Atisha, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertemuan saya dengan Yang Mulia Dalai Lama terjadi pada tahun 1996. Bersama seorang anggota DPR dan dua orang teman lainnya, kami cukup beruntung untuk mendapatkan audiensi dengan Beliau. Ketika saya berkata bahwa kita semua berasal dari Indonesia, Beliau segera bereaksi, “ Oh yes, yes, yes…Indonesia…Tibet mempunyai hubungan yang erat, dan ikatan yang kuat dengan Indonesia.”</p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p>“Atisha, adalah seorang petapa dari India. Dia berangkat ke Indonesia untuk belajar dari seorang Guru di Indonesia,” Beliau bercerita.</p>
<p>Sungguh beruntung bahwa saya sudah mengetahui cerita ini.</p>
<p>Sungguh, tidak banyak orang Indonesia ingat bahwa dulu bangsa ini penuh dengan harta karun kebijaksanaan. Kita tidak pernah mengimpor spiritualitas dari India; malah para pelajar dari India datang ke kepulauan kita untuk belajar dari guru-guru setempat kita.</p>
<p>Kemudian, Atisha berkunjung ke Tibet, di mana Beliau menyebarkan ajaran-ajaran dari gurunya.</p>
<p>Meditasi yang diajarkannya sampai sekarang masih digunakan sebagai latihan oleh orang-orang Tibet. Latihan itu disebut Tong-Len, yang secara literal berarti “ Meditasi Terima dan Kasih, Menerima dan Memberi”. Ternyata, ungkapan umum ‘terima kasih’ bukanlah sekedar ungkapan biasa.</p>
<p>Termuat sebuah filosofi mendalam di dalam ungkapan kata ‘terima kasih.’ Kata itu merefleksikan pandangan kita tentang kehidupan dan memproyeksikan kepercayaan mendalam kita yang telah berakar. Kita, orang Indonesia, percaya, atau paling tidak pernah percaya, pada adanya hukum bagi perasaan bersyukur atau berterima kasih. Kita tidak pernah memerlukan sebuah film seperti The Secret yang memberitahu kita untuk selalu bersyukur pada segala hal yang kita terima dari alam semesta.</p>
<p>Lebih dari 800 tahun yang lalu, para pelajar dari India berpergian ke Sumatera, yang waktu itu dikenal sebagai Svarna Dvipa, untuk belajar dari Dharmakirti Suvarnadvipi, Dharmakirti dari Svarna Dvipa. Dia menghabiskan 10 tahun waktunya untuk berguru. Dia mendokumentasikan setiap kata yang didengarnya dan setiap pelajaran yang dia pelajari.</p>
<p>Kita, orang Indonesia, malah tidak mempunyai catatan sejarah seperti ini.</p>
<p>Di kemudian hari, meditasi ini digunakan oleh ahli pengobatan dan dokter di Tibet. Mereka akan membayangkan rasa sakit para pasien mereka dan menariknya ke arah mereka sendiri. Ini adalah bagian pertama dari meditasi, terima – menerima. Kemudian, di bagian keduanya, mereka akan mengirimkan keluar energi yang telah berubah menjadi energi kasih – memberi.</p>
<p>Teknik (tong-len) ini segera menggantikan fungsi (obat pereda sakit) anestesi herbal. Perlu saya ingatkan kembali bahwa semua ini terjadi lebih dari 800 tahun yang lalu.</p>
<p>Keindahan dari teknik ini adalah, penerima rasa sakit dapat memproses rasa sakit dan mentransformasikannya menjadi keadaan yang baik. Semua negativitas dapat ditarik ke dalam diri kita, diproses dan diproyeksikan keluar sebagai energi positif.</p>
<p>Teknik ini sekarang sedang digunakan oleh banyak ahli saraf dari barat, sebagai bagian dari terapi stimulasi transcranial magnetic, untuk meredakan penderitaan dari beberapa pasien akibat serangan penyakit pada otak atau stroke.</p>
<p>“Tapi saya harus menekankan di sini bahwa kita belum mendapatkan jawaban atas apa yang sedang terjadi,” kata Max Bennett, professor di Universitas Sydney dan merupakan salah seorang ahli saraf terkemuka di dunia.</p>
<p>“Ini adalah sebuah fenomena. Tapi dalam satu hal, fenomena ini mengindikasikan bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui dalam ilmu pengetahuan barat, “ dia berkata.</p>
<p>“Kita tahu bahwa sebelum tahun sekitar 2020, musuh utama bagi kesehatan umat manusia adalah depresi. Bukan kanker, bukan penyakit jantung, tapi depresi, “ dia melanjutkan.</p>
<p>Teknik tanpa obat ini berasal dari kepulauan Nusantara kita ini akhirnya dapat menggantikan peran obat pereda rasa sakit yang sekarang ini berbasis pada morfin yang mahal..</p>
<p>Ketika mendiskusikan tentang endudukan China pada Tibet, Dalai lama berkata, “Meditasi ini akan membebaskan saya dari kebencian. Saya melakukan (latihan) ini setiap hari untuk mengirimkan energi dan perasaan positif pada orang-orang China.”</p>
<p>Saya secara pribadi tidak dapat pernah melupakan kata-kata dari Dalai lama: “Kita bangsa Tibet selalu berterima kasih kepada negara Indonesia dan orang-orang Indonesia, untuk ajaran Tong Len yang indah ini.”</p>
<p>Siapapun yang pernah melihat dan mendengarkan kata-kata Beliau mungkin masih mengingat bagaimana Beliau berbicara. Beliau menggunakan sedikit kata-kata, kalimat-kalimat yang singkat dan tidak terbebani oleh kerumitan dari tata bahasa Inggris.</p>
<p>Saya bersaksi akan rasa terima kasih dari Dalai Lama untuk kita, orang-orang Indonesia dan negara kita, Indonesia. Saya telah menyaksikan rasa bersyukurnya, rasa terima kasihnya.</p>
<p>Maka sekarang, sebagai orang Indonesia, marilah kita mengingatkan diri kita sendiri akan apa artinya untuk diterima-kasihi. Tentu saja, kembali kasih (terima kasih kembali), dan ketika membaca arti di antara kata-kata yang tertulis, maka bisa berarti “Saya bersyukur dan berterima kasih pada setiap dari kalian semua.”</p>
<p>Tidak seperti kata Amerika “Welcome” dan kata Inggris “Never Mind,” orang Indonesia membalas “rasa terima kasih dengan cara berterima kasih.” Maka marilah kita sekarang menghadapi cermin dari kesadaran kita dan marilah kita mengecek wajah dari jiwa-jiwa kita. Sudahkah kita membalas rasa terima kasih Tibet dengan terima kasih (juga)?</p>
<p>Sudah hampir satu milenium orang-orang Tibet telah menjaga dan melestarikan halaman-halaman yang hilang dari sejarah kita. Mereka telah melestarikannya dengan rasa bersyukur dan berterima kasih. Apa yang telah kita lakukan bagi mereka sekarang? Bagaimana kita membalas rasa terima kasih kita kepada mereka?</p>
<p>Uni Eropa, Amerika Serikat, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara seperti Polandia, Jerman, India dan Taiwan semuanya telah mengomentari gejolak baru-baru ini di Tibet melawan pendudukan tidak sah atas tanah mereka oleh rezim komunis China.</p>
<p>Apa yang harus kita katakan sekarang? Mungkin kita merasa lebih nyaman untuk diam saja seperti yang selalu kita lakukan belakangan ini. Tapi, marilah kita ingatkan diri kita semua bahwa ini bukanlah tradisi kita, ini bukanlah kebudayaan kita.</p>
<p>Marilah kita ingatkan diri kita sendiri akan apa yang Soekarno, Bapak Bangsa kita, pernah katakan: “Kebebasan untuk menjadi bebas. Apa gunanya ‘bebas dari rasa takut’; apa gunanya ‘bebas untuk berekspresi, bebas untuk berkepercayaan, dan bebas dari kemiskinan, bebas dari rasa takut’—bila tidak ada ‘kebebasan untuk menjadi bebas?’”</p>
<p>Berulang kali, Sukarno akan mengulangi bahwa buah dari kemerdekaan Indonesia tidak hanya akan dinikmati oleh orang Indonesia sendiri dan bahwa Indonesia akan bekerja tanpa henti untuk kemerdekaan bagi semua orang dari semua bangsa-bangsa.</p>
<p>Tidak ada lagi ruang untuk mendiskusikan ketidaksahan pendudukan RRC atas Tibet. Semua siswa ilmu sejarah pasti akan mengutuk pendudukan ini. Kita, sebagai sebuah negara, harus segera bangkit melawan pendudukan seperti ini. Jika tidak, maka generasi-generasi mendatang mungkin akan menertawai kepengecutan kita, kebijakan luar negeri yang tidak jelas dan ketidakpedulian kita akan sejarah. Terlepas dari isu Tibet ini, saya takut sikap kita ini akan akhirnya merugikan diri kita sendiri.</p>
<p><strong>Link-link yang berkaitan :</strong><br />
- <a href="http://www.antaraphoto.com/dom/prevw/?id=1206610024" target="_blank">Antara Photo 1</a><br />
- <a href="http://www.antaraphoto.com/dom/prevw/?id=1206610033" target="_blank">Antara Photo 2</a><br />
- <a href="http://www.lantas.metro.polri.go.id/news/index.php?id=2&amp;nid=13112" target="_blank">Lantas Metro Polri: Tujuh Lokasi Unjuk Rasa </a><br />
- <a href="http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.27.09102017&amp;channel=1&amp;mn=9&amp;idx=25" target="_blank">Kompas Online: Solidaritas Tibet Demo Kedubes RRC</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/indonesia-tibet-dan-rahasia-dari-%e2%80%98terima-kasih%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dalai Lama ke-14 meresmikan patung Buddha yang dipersembahkan oleh Anand Krishna di Sarnath India</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/dalai-lama-ke-14-meresmikan-patung-buddha-yang-dipersembahkan-oleh-anand-krishna-di-sarnath-india/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/dalai-lama-ke-14-meresmikan-patung-buddha-yang-dipersembahkan-oleh-anand-krishna-di-sarnath-india/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 04:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Kabut pagi masih mengambang di permukaan tanah saat pada pukul,Yang Mulia Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14 memberkati Patung Buddha setinggi 2.5  m yang  dipersembahkan  oleh  Anand  Krishna, tokoh spiritualis dan nasionalis dari Indonesia.  Peresmian patung  tersebut dilakukan  di Central Institue of Higher Tibetan Studies (Deemed University), Sarnath (Uttar Pradesh), India, serta diliput oleh berbagai  media  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kabut pagi masih mengambang di permukaan tanah saat pada pukul,Yang Mulia Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14 memberkati Patung Buddha setinggi 2.5  m yang  dipersembahkan  oleh  Anand  Krishna, tokoh spiritualis dan nasionalis dari Indonesia.  Peresmian patung  tersebut dilakukan  di Central Institue of Higher Tibetan Studies (Deemed University), Sarnath (Uttar Pradesh), India, serta diliput oleh berbagai  media  elektronik  dan  tulis India seperti Hindustan Time, K TV, DD News, Z News. Patung Buddha yang  dibuat dari batu yang sama untuk membangun Candi Borobudur pada abad ke 9 masehi di Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia dipersembahkan kepada Dalai Lama ke-14  untuk memperkuat ikatan spiritual dan budaya antara masyarakat Indonesia dan Tibet, serta mendukung perjuangan tanpa kekerasan Yang Mulia Dalai Lama ke-14 guna melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet.</p>
<p><span id="more-8"></span>
<p><img class="centered" title="smile" src="http://www.aumkar.org/eng/wp-content/uploads/2009/01/smile-300x199.jpg" alt="smile" width="300" height="199" /><br />
“Saya, mewakili rakyat Indonesia, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 atas upayanya yang tak kenal lelah guna menemukan solusi damai berlandaskan sikap toleransi dan saling menghormati demi melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet. Dengan mempersembahkan patung dari Indonesia ini kepada Yang Mulia, dan kemudian diletakkan di tanah India – saya berharap juga berdoa agar rakyat Tibet, India serta Indonesia bersatu dalam cinta, damai, dan harmoni” kata Anand Krishna sebelum berangkat ke India beberapa hari yang lalu.</p>
<p>Sebelum ke tempat acara peresmian, Yang Mulia Dalai Lama menyampaikan ucapan terima kasih dan  appresiasi yang sangat  tinggi atas patung Buddha yang dipersembahkan.  Tanpa di duga, sesaat setelah upacara peresmian selesai, ketika Yang Mulia photo bersama dengan Anand Krishna dengan enam pengurus Yayasan Anand Ashram Indonesia (Berafiliasi dengan United Nations)  yang  juga diabadikan oleh berbagai media yang hadir, yang Mulia Dalai Lama memberikan pernyataan:</p>
<p>“Press anda mungkin tidak tahu,  ribuan tahun yang lalu, seorang master, Guru Buddha dari Benggali yang bernama Athisa Divankara menerima pelajaran dari seorang  Master,Guru yang berasal dari Indonesia.  Dalam sejarah Buddha,  Athisa Divankara dipandang sebagai penyebar ajaran Buddha yang sangat, sangat penting.  Sehingga Beliau adalah Guru, Master yang sangat penting dari Indonesia. Dari sini kami mempunyai hubungan dekat secara spiritual,secara fisik jauh”.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, Bapak Anand Krishna juga memberikan memberikan pernyataaan ” Dengan Cinta dan Hamoni, kita dapat menyatukan India, Tibet dan Indonesia. Melalui persatuan ini kita dapat mencapai perdamaian dunia”</p>
<p><strong>Dalai Lama:</strong> <em>“Indonesia  dan Tibet mempunyai hubungan spiritual yang dekat.”</em></p>
<p><em> Jumat, 9  Januari 2009, pukul 08.45 waktu Sarnath (10.15 WIB)</em></p>
<p>Lihat foto-foto lainnya =&gt; <a href="http://s170.photobucket.com/albums/u260/bendemataram/2009%20-%20Dalai%20Lama/" target="_blank">Klik di sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/dalai-lama-ke-14-meresmikan-patung-buddha-yang-dipersembahkan-oleh-anand-krishna-di-sarnath-india/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anand Krishna persembahkan Patung Buddha Muntilan ke India</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-persembahkan-patung-buddha-muntilan-ke-india/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-persembahkan-patung-buddha-muntilan-ke-india/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 04:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[INDONESIA dan Tibet memiliki hubungan spiritualitas dan budaya. Pada tahun 1012 Masehi, Atisha seorang biarawan Budhis dari India berkelana ke kepulauan nusantara. Setelah itu pergi ke Tibet untuk mengajarkan ajaran kuno meditasi Tong-Len yang dipelajarinya dari seorang guru nusantara bernama Dharmakirti Svarnadvipi, sebuah nama yang sangat dekat di hati Yang Mulia Dalai Lama dan masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>INDONESIA dan Tibet memiliki hubungan spiritualitas dan budaya. Pada tahun 1012 Masehi, Atisha seorang biarawan Budhis dari India berkelana ke kepulauan nusantara. Setelah itu pergi ke Tibet untuk mengajarkan ajaran kuno meditasi Tong-Len yang dipelajarinya dari seorang guru nusantara bernama Dharmakirti Svarnadvipi, sebuah nama yang sangat dekat di hati Yang Mulia Dalai Lama dan masyarakat Tibet.</p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p>Guna menjalin kembali tali kebudayaan dan spiritualitas itu tokoh spiritual antaragama dari Indonesia Anand Krishna mempersembahkan patung Buddha terbuat dari batu setinggi 2,5 meter kepada Yang Mulia Tenzin Gyatso Dalai Lama ke-14, di Sarnath (Uttar Pradesh) India, belum lama ini. Patung Buddha ini dibuat dari batu yang sama untuk membangun Candi Borobudur pada abad ke-9 Masehi di Muntilan Jawa Tengah.</p>
<p>“Saya mewakili rakyat Indonesia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 yang tak kenal lelah menemukan solusi damai berlandaskan sikap toleransi dan saling menghormati demi melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet,” katanya, belum lama ini.<br />
Direncanakan setelah diinagurasi langsung oleh Dalai Lama ke-14 patung Buddha tersebut akan diletakkan di Central Institue of Higher Tibetan Studies (Deemed University) Sarnath (Uttar Pradesh) India. Dengan mempersembahkan patung yang kemudian diletakkan di tanah India, Anand Krishna berharap agar rakyat Tibet, India serta Indonesia bersatu dalam cinta, damai dan harmoni.</p>
<p>“Persembahan patung ini juga untuk memperkuat ikatan spiritual dan budaya antara masyarakat Indonesia dan Tibet,” ucap pendiri Yayasan Anand Ashram yang bertolak ke India bersama 6 pengurus yayasan berafiliasi dengan United Nations.</p>
<p>Ketua Yayasan Anand Ashram Maya Safira Muchtar menambahkan saat ini di Indonesia tidak banyak orang yang tahu hubungan sejarah antara Kerajaan Sriwijaya dengan Tibet. Karena itulah kunjungan Anand Krishna kepada Dalai Lama ke-14 merupakan satu momen penting dan bersejarah guna menjalin kembali tali kebudayaan dan spiritualitas kedua bangsa. “Kedua bangsa ini merupakan bagian dari peradaban Lembah Sungai Indus yang sama. Bersama-sama kita dapat memberikan tanggapan yang bijak serta mewujudkan mimpi bersama yaitu One Earth, One Sky and One Humankind,” kata Maya Safira.         (Nik)-d</p>
<p>Sumber: <a href="http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=188285&amp;actmenu=36" target="_blank">www.kr.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-persembahkan-patung-buddha-muntilan-ke-india/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anand Krishna Beri Dalai Lama Patung</title>
		<link>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-beri-dalai-lama-patung/</link>
		<comments>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-beri-dalai-lama-patung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 04:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tibetindonesia.org/ind/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Anand Krishna, tokoh spiritual antaragama dari Indonesia, bersama enam pengurus Yayasan Anand Ashram Indonesia (berafiliasi dengan United Nations) dijadwalkan tiba di Sarnath, Senin (5-1), untuk mempersembahkan patung Buddha terbuat dari batu setinggi 2,5 meter kepada Yang Mulia Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14, pemimpin spiritual dan pemerintahan rakyat Tibet di pengasingan.

Direncanakan, setelah diinaugurasi oleh Dalai Lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anand Krishna, tokoh spiritual antaragama dari Indonesia, bersama enam pengurus Yayasan Anand Ashram Indonesia (berafiliasi dengan United Nations) dijadwalkan tiba di Sarnath, Senin (5-1), untuk mempersembahkan patung Buddha terbuat dari batu setinggi 2,5 meter kepada Yang Mulia Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14, pemimpin spiritual dan pemerintahan rakyat Tibet di pengasingan.<br />
<span id="more-4"></span><br />
Direncanakan, setelah diinaugurasi oleh Dalai Lama ke-14, patung Buddha akan diletakkan di Central Institue of Higher Tibetan Studies (Deemed University), Sarnath (Uttar Pradesh), India.</p>
<p>Patung Buddha ini dibuat dari batu yang sama untuk membangun Candi Borobudur pada abad ke-9 Masehi di Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia.</p>
<p>Anand Krishna mengatakan persembahan ini untuk memperkuat ikatan spiritual dan budaya antara masyarakat Indonesia dan Tibet, serta mendukung perjuangan tanpa kekerasan Mulia Dalai Lama untuk melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet.</p>
<p>&#8220;Saya, mewakili rakyat Indonesia, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Yang Mulia Dalai Lama ke-14 atas upayanya yang tak kenal lelah dalam melindungi warisan budaya dan sejarah Tibet secara damai,&#8221; kata Anand Krishna.</p>
<p>Dengan mempersembahkan patung dari Indonesia ini kepada Dalai Lama dan kemudian diletakkan di tanah India, diharapkan rakyat Tibet, India, dan Indonesia bersatu dalam cinta, damai, dan harmoni.</p>
<p>Dia menjelaskan dalam catatan sejarah di Tibet, sekitar abad ke-11 Masehi, secara tak langsung terbangun hubungan antara Kerajaan Sriwijaya dan Tibet melalui Atisha, biarawan Buddhis dari India. Di Kerajaan Sriwijaya inilah Atisha belajar kepada Dharmakirti-Svarnadvipi, seorang guru spiritual yang hidup di Kerajaan Sriwijaya.</p>
<p>&#8220;Selanjutnya Atisha pergi ke Tibet untuk mengajarkan ajaran kuno meditasi Tong-Len yang beliau pelajari dari Dharmakirti-Svarnadvipi. Hingga saat ini nama Dharmakirti-Svarnadvipi sangat dekat di hati Dalai Lama ke-14 dan masyarakat Tibet,&#8221; lanjut Anand Krishna .</p>
<p>Maya Safira Muchtar, ketua Yayasan Anand Ashram, mengatakan saat ini di Indonesia tak banyak orang yang tahu hubungan sejarah antara Kerajaan Sriwijaya dan Tibet. n HES/N-1</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009010423422145" target="_blank">http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009010423422145</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tibetindonesia.org/ind/anand-krishna-beri-dalai-lama-patung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
